Lompat ke isi utama

Berita

Lembaga Adat Melayu (LAM) Lingga Usulkan Nama “Perpustakaan Mini Encik Puan Haji Fatimah” untuk Bawaslu Kabupaten Lingga

Lembaga Adat Melayu (LAM) Lingga Usulkan Nama “Perpustakaan Mini Encik Puan Haji Fatimah” untuk Bawaslu Kabupaten Lingga

Perpustakaan Mini Encik Puan Haji Fatimah nama yang diberikan oleh Lembaga Adat Melayu Lingga, Selasa (22/09/2026)

Lingga, Bawaslu — Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga Kepulauan Riau memberikan usulan nama untuk Perpustakaan Mini Bawaslu Kabupaten Lingga. Usulan tersebut disampaikan melalui surat Nomor 20/LAM-KL/IX/2026 tertanggal 21 September 2026 sebagai tindak lanjut atas permohonan Bawaslu Kabupaten Lingga terkait penamaan perpustakaan mini.

Dalam surat tersebut, LAM Kepulauan Riau Kabupaten Lingga mengusulkan nama “Perpustakaan Mini Encik Puan Haji Fatimah”.

Usulan nama tersebut disertai sejumlah pertimbangan. Menurut LAM Lingga, nama Encik Puan Haji Fatimah dinilai memiliki kekhasan dan belum banyak digunakan, sehingga dapat menjadi identitas yang kuat dan khas Lingga.

Selain itu, sosok Encik Puan Haji Fatimah dinilai memiliki nilai inspiratif bagi masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Pemberian nama tersebut juga diharapkan dapat membawa pesan bahwa demokrasi dan pemilu yang baik lahir dari masyarakat yang berilmu dan beradab.

Dalam riwayat singkat yang disampaikan LAM Lingga, Encik Puan Haji Fatimah disebut sebagai salah seorang tokoh perempuan bangsawan di lingkungan Istana Kesultanan Riau-Lingga Daik pada abad ke-19. Beliau disebut memiliki keturunan Bugis-Melayu Riau-Lingga dari zuriat Daeng Celak dan Raja Haji.

Gelar “Encik Puan” merupakan gelar kehormatan bagi perempuan bangsawan atau lingkungan istana yang dikenal alim dan dihormati. Encik Puan Haji Fatimah disebut dikenal sebagai guru mengaji dan guru kitab bagi perempuan istana maupun masyarakat Daik.

Perannya dalam pendidikan juga digambarkan sebagai pendidik generasi istana. Anak-anak bangsawan dan masyarakat belajar membaca Al-Qur'an, kitab Jawi serta adab Melayu kepada beliau. Pendidikan yang diberikan tidak hanya menekankan ilmu agama, tetapi juga budi bahasa, sopan santun, pantun, syair, gurindam dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu.

LAM Lingga juga menggambarkan Encik Puan Haji Fatimah sebagai sosok yang meneruskan mata rantai ilmu kepada generasi berikutnya. Meskipun tidak banyak karya tulis yang tercetak atas nama beliau, perannya sebagai pendidik dinilai memiliki arti penting dalam menjaga dan meneruskan tradisi keilmuan masyarakat Melayu di Lingga.

Dengan usulan nama tersebut, keberadaan Perpustakaan Mini Bawaslu Kabupaten Lingga diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyediaan bahan bacaan, tetapi juga menjadi ruang literasi yang membawa nilai ilmu, adab, budaya Melayu dan pendidikan demokrasi bagi masyarakat.

Usulan dari LAM Lingga selanjutnya menjadi salah satu bahan pertimbangan Bawaslu Kabupaten Lingga dalam menentukan nama Perpustakaan Mini Bawaslu Kabupaten Lingga.

Humas